Sabtu, 08 Juni 2013

Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kabupaten Kebumen



Oleh : Soraya Dayanti - Kabupaten Kebumen merupakan salah satu dari 35 Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah. Luas wilayah Kabupaten Kebumen sekitar 128.111,50 hektar yang terbagi dalam 26 kecamatan, 449 desa dan 11 kelurahan. Luas wilayah darat 128.111,50 hektar atau 1.281,115 km2 dan wilayah laut 6.867 km2. Secara astronomis terletak diantara 109o22’–109o50’ Bujur Timur dan 7o27’–7o50’ Lintang Selatan. Kabupaten Kebumen dalam konteks regional merupakan simpul penghubung  antara Jawa Timur dan Jawa Barat dan memanjang di pulau Jawa bagian Selatan.
Pada saat ini, problem lingkungan hidup dan bencana alam, adalah permasalahan global yang membutuhkan kesadaran seluruh umat manusia untuk mengatasinya. Salah satunya bencana alam yang sering terjadi yaitu banjir dan kekeringan yang akhir-akhir ini sering melanda berbagai wilayah di Jawa Tengah. Kondisi tersebut tidak lepas dari perbuatan manusia yang cenderung merusak alam, misalnya pembalakan dan perambahan hutan, serta penambangan pasir dan batu di sekitar daerah aliran sungai.

Kabupaten Kebumen merupakan salah satu daerah yang ikut merasakan dampak kerusakan lingkungan khususnya kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS). Banjir besar yang pernah melanda Kebumen antara lain disebabkan air hujan yang tidak tertampung lagi oleh sungai sehingga meluap ke perkampungan. Kerusakan yang terjadi di DAS Telomoyo yang masuk dalam wilayah Kabupaten Kebumen telah menyebabkan kapasitas sungai untuk menampung air menjadi sangat berkurang.

Penambangan pasir dan batu oleh penduduk serta penggerusan tebing sungai semakin menambah parah kondisi di daerah tersebut. Kondisi tersebut masih diperparah oleh banyaknya perambahan hutan, sehingga tidak bisa lagi menahan air hujan. Akibatnya pada saat hujan lebat, air langsung mengalir ke daerah yang lebih rendah, dalam hal ini sungai-sungai di DAS Telomoyo. Kondisi di atas juga diakibatkan kegiatan pertanian yang kurang ramah lingkungan serta gundulnya hutan di daerah penampung air. Hal ini menyebabkan erosi yang terjadi di sepanjang aliran sungai tersebut semakin parah. 

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah berusaha menangani permasalahan di atas melalui berbagai cara, mulai pembangunan fisik hingga program-program pemberdayaan masyarakat. Berbagai kegiatan pembangunan fisik seperti pembuatan cekdam, bendungan, sumur resapan, dan sebagainya telah dilaksanakan.

Namun demikian upaya - upaya tersebut belum optimal karena banjir masih saja terjadi meskipun frekuensinya sudah berkurang. Selain banjir, dampak dari rusaknya lingkungan DAS adalah hilangnya mata air yang terdapat di sekitar DAS dan kekeringan. Pelibatan masyarakat menjadi agenda penting dalam proyek tersebut. Setiap kegiatan yang dilakukan merupakan hasil kesepakatan antara masyarakat dengan pemerintah. Hasil dari kegiatan tersebut cukup menggembirakan, berangsur-angsur perilaku masyarakat terhadap lingkungan DAS berubah menjadi lebih baik. Peran masyarakat dalam pengelolaan DAS tidak hanya sebagai penerima manfaat, namun juga sebagai pemprakarsa pelaksanaan serta penjaga kelestarian DAS.

Program tersebut berupaya melatih masyarakat bagaimana melakukan konservasi sumber daya air melalui pelatihan pembangunan fisik, teknik pertanian ramah lingkungan dan hemat air serta peningkatan usaha perekonomian masyarakat. Kegiatan yang bersifat fisik dan usaha peningkatan pendapatan masyarakat tentu saja belum cukup untuk melestarikan sumber daya air. Perubahan perilaku yang berangkat dari kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pelestarian lingkungan tentunya dibutuhkan dalam upaya perbaikan DAS.


Sumber :

Tidak ada komentar: