Selasa, 18 Juni 2013

Kerusakan Hutan di Bandung


Kerusakan hutan merupakan masalah yang perlu diamati. Masalah kerusakan hutan terutama di kota Bandung merupakan masalah yang sangat serius  yang perlu penanganan dini. Luas hutan kawasan Bandung selatan di Kabupaten Bandung pada tahun 2010 mencapai 263,75 ha. Bila dibandingkan dengan tahun 2008, luas hutan ini mengalami peningkatan, namun bila dibandingkan dengan tahun 2006-2007 luas hutan ini mengalami penurunan yang cukup signifikan. Luas hutan di Kabupaten Bandung pada tahun 2006 seluas 3.356,01 ha, pada tahun 2007 seluas 2.028,70 ha dan pada tahun 2008 seluas 224,12 ha. Dari luasan tersebut telah seluruhnya dilakukan rehabilitasi. 

Luas lahan kritis di Kabupaten Bandung pada tahun 2006 mencapai 21.130,00 ha, pada tahun 2007 mencapai 15.330,60 ha dan pada tahun 2008 mencapai 9.056,19 ha. Terhadap lahan kritis tersebut, setiap tahunnya telah dilakukan upaya rehabilitasi, yaitu pada tahun 2008 sebesar 48,79 %, tahun 2009 telah dilakukan upaya rehabilitasi seluas 15,91 %. sehingga pada tahun 2010 luas lahan kritis mencapai 22.076,68 ha. Dari luasan tersebut telah dilakukan rehabilitasi seluas 8,8 %.

Dari sejumlah ketentuan yang terdiri dari keputusan presiden, keputusan Menteri Kehutanan, gubernur Jawa Barat, dan peraturan daerah serta surat keputusan gubernur, KBU ditegaskan sebagai kawasan konservasi, yang fungsinya melindungi kawasan di bawahnya, yaitu Cekungan Bandung, terutama di Bandung Selatan.
Koordinator Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bandung, Jabar, Dadan Ramdan, mengaku heran dengan pemerintah Provinsi Jabar. Meskipun banyak ketentuan yang menegaskan dan melarang, pelanggaran demi pelanggaran terus terjadi.

Dari data Walhi, KBU yang luasnya mencapai lebih dari 38.000 hektar yang terdiri dari hutan produksi 15.700 hektar, hutan konservasi atau cagar alam hampir 3.000 hektar, dan hutan lindung lebih dari 7.200 hektar. Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda Dago hanya seluas 590 hektar. Adapun luas areal perkebunan dan kebun campuran serta hortikultura mencapai hampir 8.000 hektar. Sementara permukiman penduduk, hotel, apartemen, dan lainnya mencapai 4.000 hektar.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Kadisparpora) Kab. Bandung, Drs. H. Ahmad Djohara, M.Si. menegaskan, pembabatan hutan lindung secara membabi buta di wilayah Kab. Bandung dan sekitarnya, dipastikan akan merusak sapta pesona dunia pariwisata.

Dilihat dari adanya perusakan hutan yang terjadi di hulu Sungai Citarum, yang dilakukan PT Chevron Geothermal Indonesia (CGI) terhadap ribuan pohon lindung yang dibabat di kawasan Gunung Puncak Cae seluas 2 hektare, Desa Cihawuk, Kec. Kertasari, Kab. Bandung, sejak 2010 hingga saat ini. Daerah Cihawuk adalah salah satu kawasan hutan lindung yang harus dijaga kelestariannya, karena daerah itu merupakan salah satu sumber mata air Sungai Citarum, sebagai salah satu daya tarik wisata di Kab. Bandung.

Rusaknya hutan di kota Bandung menyebabkan bencana alam seperti banjir bandang dan tanah longsor. Kerusakan hutan di kota Bandung juga dapat membuat Tingkat kemiringan tanah rata-rata 45 derajat. Berdasarkan pemantauan dan data yang diperoleh "GM", ada beberapa faktor yang menyebabkan kerusakan hutan di daerah Bandung. Pertama terjadinya alih fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian. Juga pembalakan kayu dan aktivitas off-road baik mobil maupun motor.

Hutan yang berubah fungsi menjadi lahan pertanian tersebut, berada pada kawasan terbuka. Tidak ada tanaman keras yang berfungsi sebagai pengikat tanah dan penyerap air hujan, sehingga jika hujan rawan terjadi longsor. Selain itu, lahan pertanian tidak menggunakan teknik pengendalian longsor terasering.

Sumber:
http://dir.groups.yahoo.com/group/Sesepuh12Wijaya/message/2272
http://www.citarum.org/node/951
http://www.bandungkab.go.id/arsip/2374/pertanian-kehutanan-dan-peternakan
http://m.inilah.com/read/detail/1991794/kerusakan-hutan-perhutani-rugi-rp17-miliar
http://disparbud.jabarprov.go.id/applications/frontend/index.php?mod=news&act=showdetail&id=263

Tidak ada komentar: