Kamis, 13 Juni 2013

Pencemaran Limbah Batik Di Pekalongan

Kota pekalongan adalah salah satu kota yang terkenal dengan batiknya sebagai penghasil batik asli indonesia , batik sudah menjadi salah satu budaya indonesia yang harus dijaga karna sudah menjadi warisan bangsa indonesia sejak zaman nenek moyang terdahulu,


batik saat ini tidak lagi dianggap kuno, berbagai jenis-jenis batik moderen yang ada dipasaran . pekalogan menjadi salah satu pemasok batik kebanyak daerah di indonesia, tetapi dengan meningkatnya kebutuhan batik dipasar lokal maupun mancanegara , industri batikpun dikota pekalongan menjadi  meningkat, tetapi dengan meningkatnya kebutuhan batik yang begitu besar dan menguntungkan bagi masyarakat pekalongan tetapi di sisi lain dimana tidak menguntungkan bagi lingkungan sekitar, masyarakat pekalongan mengsampingkan kebersihan dan kesehatan lingkunganya dimana akibat limbah hasil produksi batik yang dibiarkan mencemari lingkungan sekitar menjadikan kota pekalongan sebagai kota paling tercemar se-jawa tengah.

Salah satu contoh desa pabelan adalah salah satu sentra pengrajin batik di Pekalongan, Jawa Tengah. Hampir setiap warganya adalah pengrajin batik, sungai yang seharusnya sebagai sumber kehidupan beralih fungsi sebagai air tempat pencucian untuk mencuci batik. Juga sebagai tempat untuk membuang limbahnya. Setelah batik selesai diwarnai, batik dicuci dalam sebuah bak. Sisa cucian batik lantas dibuang ke sungai. Memang tidak semua pengrajin batik membuang limbahnya ke sungai, tapi sebagian besar masih ada yang membuangnya ke aliran sungai. Ini adalah kegiatan turun temurun. Mereka percaya bahwa limbah batik tidak berbahaya.

Dinas Penataan Kota dan Lingkungan Hidup Kota Pekalongan mencatat, sekitar 12 ribu industri kecil yang membuang limbahnya ke sungai. salah satu sumber limbah adalah industri batik rumahan. ”Limbah batik mengandung zat B3, termasuk warna, BOD(Biological Oxygen Demand), COD(Chemical Oxygen Demand)  kandungannya sangat tinggi sekali dibanding hasil limbah rumah sakit. Limbah batik BOD, COD yang cukup tinggi menyebabkan rusaknya ekosistem abiotik didalam sungai. BOD dan COD adalah patokanyang biasa dipakai untuk menentukan tingkat pencemaran air.

salah satu dampak yang terjadi adalah air sumur yang sama sekali tidak dapat dipakai airnya terasa asin, pahit dan getir sehingga warnanya pun menjadi kuning bilai dipakai dapat menggangu kesehatan seperti gatal-gatal , infeksi kulit , hingga dapat menimbulkan kanker untuk itulah perlu adanya pengolahan khusus untuk penangan limbah batik seperti sebelum dibuang air melalui proses  penyaringan sehingga kadar zat berbahaya yang ada di dalam pewarna batik dapat mengurangi resiko pencemaran lingkungan sungai , memilih bahan-bahan yang ramah lingkungan dan alami, bahan alami ini tersedia di mana-mana misalnya dari tingi, tegeran, jambal, secang dan lain-lain. Beberapa daun dan akar mengkudu juga dapat dimanfaatkan sebagai pewarna.

Langkah lain adalah melakukan remediasi atau membersihkan racun di tanah atau air yagn tercemar limbah melalui mikroorganisme maupun lewat tanaman yang bisa menyerap unsur logam seperti rami dan nilam. Identitas Pekalongan sebagai kota batik harus terus dipelihara demi menjaga kelestarian batiknya. Tetapi jangan sampai ini mengorbankan sungai dan lingkungan sekitar yang berfungsi untuk memberi kita kebutuhan hidup serta kelak anak cucu kita nanti.(mohamad ramdani)

SUMBER :

http://shandy07.wordpress.com/all-about-pekalongan/pencemaran-sungai-kota-pekalongan
http://erikarianto.wordpress.com/2008/01/10/pengertian-cod-bod/dan-
http://www.antaranews.com/berita/379565/batik-ramah-lingkungan-berpewarna-dari-limbah

Tidak ada komentar: